Sabtu, 15 Agustus 2009

MUI: Masjid harus waspadai Penyusup

Categories:

Majelis Ulama Indonesia mengingatkan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan umat Islam untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penyusupan teroris ke masjid, agar peristiwa di Masjid As Surur, Telaga Kahuripan, Bogor, tidak terulang kembali.

"Kita harus meningkatkan kewaspadaan apabila memanggil ustaz. Kalau ustaz yang kita undang bicaranya mengarah ke situ (mengajak menjadi teroris.red) dan membenarkan tindakan jihad dengan cara-cara teror, berarti ia termasuk kelompok itu (teroris.red)," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma`ruf Amin di Jakarta, Jumat (14/8).

Kejadian di Masjid As Surur, kata Ma`ruf Amin, sangat mungkin disebabkan karena umat Islam tidak waspada, sehingga "kecolongan" dengan masuknya seorang ustaz bernama Saefuddin Jaelani (SJ), yang kemudian diketahui sebagai perekrut pelaku bom bunuh diri.

"Karena itu, kita harus waspada, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Pengurus masjid harus benar-benar waspada terhadap ustaz yang akan dipakai di masjid, sehingga tidak terjadi kecolongan," ujarnya.

Pengurus masjid juga harus melakukan pengawasan secara terus-menerus agar tidak kecolongan. Masjid juga harus meluruskan pemahaman kepada masyarakat, bahwa cara-cara berjihad melalaui aksi bom bunuh diri tidak bida dibenarkan. "Itu bukan jihad, itu teror," katanya.

Menurut KH Ma`ruf Amin, untuk meluruskan pemahaman keagamaan di masyarakat, MUI pada 2003 dan 2004 telah mengeluarkan fatwa tentang pelarangan melakukan kegiatan terorisme, pelarangan melakukan bom bunuh diri, dan pelurusan makna jihad.

Di Masjid As Surur, Telaga Kahuripan, SJ melakukan perekrutan terhadap "marbut" (penjaga masjid) As Surur bernama Dani Dwi Permana (18) untuk menjadi "pengantin" yang meledakkan bom di Hotel JW Marriott, 17 Juli lalu.

Dani Dwi Permana masuk dalam jaringan teroris, setelah tersihir oleh pesona ustaz SJ, yang dikenal oleh jemaah Masjid As Surur sebagai pemuda sangat santun dan baik.

KH Ma`ruf Amin menambahkan, umumnya para pelaku bom bunuh diri belum memiliki ilmu agama yang tinggi, sehingga mereka terjebak dalam pandangan sempit, seperti melakukan jihad dengan bom bunuh diri dan terorisme. "Agama Islam tidak merestui kekerasan. Islam bukan begitu, teror bukan jihad dan jihad bukan teror," katanya.

Amin menyangkal jikalau banyak masjid dan pesantren menjadi habitat para teroris, karena pesantren di Indonesia umumnya tidak radikal. Mereka biasanya merekrut orang-orang di luar pesantren, yang memiliki pandangan keagamaan yang dangkal dan sempit

Spread The Love, Share Our Article

Related Posts

Jejak Sang Tamu


di Update mulai tanggal 12 Agustus 2009

Translate this Blog !

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Widget edited by sembilan digital studio